Beranda/Blog/Tentukan harga jual
Harga

Cara Tentukan Harga Jual yang Nggak Bikin Rugi

Cara paling umum menentukan harga di UMKM adalah mengalikan harga bahan. Cara itu terasa aman, laku di pasaran—dan diam-diam bikin banyak usaha jalan di tempat.

Kalau kamu pernah bilang "bahannya 10 ribu, jual 20 ribu, untung 100%"—artikel ini buat kamu. Karena angka 20 ribu itu belum tentu untung sama sekali.

Masalahnya bukan di perkaliannya. Masalahnya di apa yang kamu kalikan.

Kenapa markup dari harga bahan itu menyesatkan

Harga bahan cuma satu dari tiga komponen biaya. Yang dua lagi biasanya nggak ikut dihitung:

  • Biaya bahan — yang habis tiap kali kamu jual satu unit
  • Biaya tenaga — waktu kamu dan karyawan, yang tetap dibayar walau sepi
  • Overhead — sewa, listrik, internet, penyusutan alat, kemasan, biaya platform

Kalau harga jualmu cuma menutup bahan plus sedikit lebih, dua komponen sisanya diam-diam dibayar pakai modalmu sendiri. Usaha terasa ramai, tapi saldo nggak pernah nambah—pola yang kita bahas lebih jauh di untung di kertas tapi uang di rekening habis.

Langkah 1: Hitung biaya bahan per unit dengan jujur

Termasuk yang kecil-kecil. Kemasan, sedotan, label, kantong—semua yang habis tiap satu penjualan.

Contoh: Satu gelas kopi susu

Kopi Rp 3.500 · Susu Rp 4.000 · Gula & sirup Rp 800 · Es Rp 200 · Cup, tutup, sedotan Rp 1.500

Total bahan: Rp 10.000

Lalu tambahkan penyusutan dan gagal produksi. Ada bahan tumpah, ada yang kedaluwarsa, ada pesanan yang salah bikin. Tambahkan 5–10% tergantung jenis usaha.

Dengan tambahan 5%: Rp 10.000 → Rp 10.500 per gelas.

Langkah 2: Bagi biaya tetap ke tiap unit

Ambil total biaya tetap bulanan—sewa, gaji, listrik, internet, cicilan alat, gaji owner—lalu bagi dengan perkiraan jumlah unit yang realistis terjual sebulan.

Biaya tetap per bulan : Rp 18.000.000 Target realistis : 3.000 gelas / bulan ------------------ Overhead per gelas : Rp 6.000

Pakai angka penjualan yang realistis, bukan yang kamu harapkan. Kalau kamu pakai target optimis, overhead per unit jadi terlalu kecil dan harga jualmu jadi terlalu murah.

Jadi biaya penuh per gelas: Rp 10.500 + Rp 6.000 = Rp 16.500.

Angka ini yang di dunia akuntansi disebut HPP (harga pokok penjualan)—total biaya untuk menghasilkan satu unit produk, bukan cuma harga bahannya. Istilahnya beda, tapi ini persis angka yang kamu cari kalau kamu googling "cara hitung HPP".

Perhatikan: kalau kamu tadi jual Rp 20.000 karena merasa "untung 100% dari bahan", untung sebenarnya cuma Rp 3.500 per gelas—bukan Rp 10.000.

Langkah 3: Pahami beda markup dan margin

Ini sumber kesalahan paling mahal di UMKM, karena dua kata ini sering dipakai seolah sama.

Dua hal yang berbeda

Markup dihitung dari biaya: berapa persen kamu naikkan di atas modal.

Margin dihitung dari harga jual: berapa persen dari uang pelanggan yang jadi untungmu.

Contoh nyata dari angka di atas. Biaya penuh Rp 16.500, kamu markup 30%:

Harga = 16.500 x 1,30 = Rp 21.450 Untung = 21.450 - 16.500 = Rp 4.950 Margin = 4.950 / 21.450 = 23,1%

Kamu menaikkan 30%, tapi marginmu cuma 23,1%. Kalau kamu pikir sudah untung 30% dan menyusun rencana berdasarkan itu, tiap bulan akan ada selisih yang nggak kamu mengerti dari mana.

Langkah 4: Pakai rumus yang benar

Kalau yang kamu incar adalah margin tertentu, jangan dikalikan—dibagi.

Rumus harga jual

Harga jual = Biaya penuh per unit ÷ (1 − margin yang diinginkan)

Kalau nggak mau hitung manual, kalkulator harga jual kami pakai rumus yang sama—tinggal masukkan angkamu.

Dengan biaya Rp 16.500 dan target margin 25%:

Harga = 16.500 / (1 - 0,25) = 16.500 / 0,75 = Rp 22.000 Cek: (22.000 - 16.500) / 22.000 = 25,0% ✓

Bulatkan ke angka yang enak dibaca—Rp 22.000 sudah pas. Kalau hasilnya Rp 21.700, naikkan ke Rp 22.000; jangan turunkan ke Rp 21.500 cuma karena kelihatan lebih murah.

Langkah 5: Cek titik impasmu

Setelah harga ketemu, hitung berapa unit yang harus terjual supaya nggak nombok. Yang dipakai di sini adalah kontribusi: harga jual dikurangi biaya bahan saja.

Kontribusi per gelas = 22.000 - 10.500 = Rp 11.500 Titik impas = 18.000.000 / 11.500 = 1.566 gelas / bulan ≈ 53 gelas / hari

Sekarang harga jualmu bukan lagi tebakan—kamu tau persis berapa gelas per hari yang bikin usahamu aman. Kalau 53 gelas sehari terasa nggak mungkin, masalahnya bukan di harga; masalahnya di biaya tetap yang kegedean untuk skala usahamu.

Kapan harus naikkan harga

Bukan tiap tahun sekali karena kebiasaan, tapi saat angkanya bilang begitu.

Misalnya harga bahan naik 15%, dari Rp 10.500 jadi Rp 12.075. Kalau harga jual tetap Rp 22.000:

 SebelumSesudah bahan naik
Biaya bahanRp 10.500Rp 12.075
OverheadRp 6.000Rp 6.000
Biaya penuhRp 16.500Rp 18.075
Harga jualRp 22.000Rp 22.000
Margin25,0%17,8%

Marginmu turun 7 poin tanpa kamu melakukan apa-apa. Untuk balik ke 25%, harga perlu jadi Rp 18.075 ÷ 0,75 = Rp 24.100—bulatkan Rp 24.000.

Kenaikan Rp 2.000 dari Rp 22.000 terasa berat diucapkan. Tapi bertahan di harga lama berarti kamu kerja sama kerasnya untuk untung yang jauh lebih tipis. Kalau ragu, naikkan bertahap, atau perkenalkan ukuran/varian baru di harga baru.

Kalau harga pasar lebih murah dari hitunganmu

Ini situasi yang nyata dan nggak selalu berarti kamu harus ikut turun. Pilihanmu ada empat:

  1. Turunkan biaya bahan — nego supplier, beli volume, ganti kemasan
  2. Naikkan volume — overhead per unit turun kalau unitnya lebih banyak
  3. Turunkan biaya tetap — ini yang paling sering jadi akar masalah
  4. Jangan ikut turun — kalau produkmu memang beda, jual bedanya, bukan harganya

Yang tidak boleh jadi pilihan: jual di bawah biaya penuh sambil berharap "nanti juga ketutup dari volume". Kalau tiap unit rugi, jualan lebih banyak cuma bikin ruginya lebih cepat.


Ringkasnya

  1. Hitung biaya bahan per unit, termasuk kemasan dan penyusutan
  2. Bagi biaya tetap bulanan ke target unit yang realistis
  3. Jumlahkan keduanya jadi biaya penuh per unit
  4. Harga jual = biaya penuh ÷ (1 − margin), bukan biaya × markup
  5. Hitung titik impas dalam jumlah unit per hari
  6. Cek ulang tiap harga bahan berubah

Kalau kamu belum memisahkan uang usaha dan pribadi, angka biaya tetapmu kemungkinan besar belum akurat—mulai dari cara pisah uang pribadi dan uang usaha dulu, lalu kembali ke sini.

Margin kamu lagi naik atau turun?

Rapih AI menghitung margin tiap minggu dari catatan chat harianmu, dan kasih tau waktu harga bahan mulai menggerus untung—sebelum kamu kehabisan kas.

Daftar Early Access — Gratis